“Keluarga Berwawasan Ekologis” dalam Cahaya: Ensiklik Laudato Si’ tentang Perawatan Rumah Kita Bersama

 

Pendahuluan

Tulisan ini dimaksudkan untuk membantu pembaca dalam memahami (1) tema Gerakan APP 2017 (“Keluara Berwawasan Ekologis”) dan pesan-pesan pokok dari Ensiklik Paus Fransiskus yang berjudul Laudato Si’ (2015), (2) Uraian juga menyentuh moral keluarga dan moral ekologi, (3) Paham tentang “keluarga kristiani yang baik” dan “manusia beriman yang baik” ternyata mewajibkan tanggung jawab moral terhadap keutuhan ciptaan. Berbicara tentang iman akan Allah dan cinta pada sesama tidak lagi mungkin tanpa menyentuh relasi kita dengan lingkungan hidup.

  1. GERAKAN APP 2017-2019
  1. Gerakan APP 2012-2016

Tema APP 2012-2016 adalah “Mewujudkan Hidup Sejahtera”. Hidup Sejahtera adalah hidup dalam kebenaran, damai dan sukacita. Hidup Sejahtera merupakan arah dan tujuan manusia. Hidup Sejahtera mesti ditandai oleh: (a) Sejahtera bersama yakni melawan ketidakadilan dan kemiskinan, (2) Ketutuhan Ciptaan yakni tidak merusak lingkungan hidup dan menggunakan sumber daya alam secara adil dan bijaksana.

  1. Gerakan APP 2017-2019

Tema APP 2017-2019 adalah “Penghormatan dan Penghargaan Keutuhan Ciptaan demi Kesejahteraan Bersama. Unsur-unsur tema tersebut meliputi: sikap kita menghormati keutuhan ciptaan, tindakan kita menghargai, keutuhan ciptaan (ciptaan memiliki nilai), keutuhan ciptaan berarti ciptaan Tuhan dijaga dan dirawa, demi kesejahteraan bersama berarti sumber daya alam dipakaisecara bijaksana untuk kesejahteraan bersama.

  1. Gerakan APP sebagai Aktualisasi Iman

Gerakan APP adalah wujud nyata usaha kita sebagai orang beriman untuk membaharui diri agar selalu jelas sebagai “citra Allah” yang menjaga ciptaan-Nya. Mengapa perlu pembaharuaan diri? Mengapa alam ciptaan perlu dijaga? Ada tiga alasan yakni: Pertama: manusia mengejar kesejahteraan, tapi sering merusak alam dan merusak diri sendiri. Kedua: alam itu rapuh, tidak bisa membela diri ketika dirusak. Ketiga: manusia merupakan pengguna dan penjaga sumber daya alam; alam digunakan dengan berkeadilan dan berkeutuhan ciptaan.

  1. Uraian Tema Gerakan APP 2017-2019

Tema umu tersebut di atas diuraikan menjadi tema setiap tahun. Teman tahun 2017: “Keluarga Berwawasan Ekologis”. Tema tahun 2018: “Kesetiakawanan Sosial Demi Keutuhan Ciptaan”. Tema tahun 2019: “Literasi Teknologi dan Keutuhan Ciptaan”. Selanjutnya pusat perhatian kita akan diarahkan pada tema Gerakan APP tahun 2017.

  1. GERAKAN APP 2017
  1. Keluarga sebagai Dasar

Tema APP 2017 mengambil keluarga sebagai dasar dan titik tolak relasi dengan alam ciptaan. Mengapa keluarga? Ada dua alasan. Pertama: manusia menjadi “pusat” pembangunan’ kualitas pembangunan dan kualitas relasi dengan alam tergantung pada kualitas manusia. Kedua: kualitas manusia tergantung pada pendidikan, dan pendidikan paling dasar terjadi dalam kelurga. Keluarga adalah dasar relasi dengan Tuha, sesama dan alam atau lingkungan hidup.

  1. Hakikat Keluarga

Dasar keluarga adalah cinta Kasih, terbuka kepada anugerah kehidupan dan mengandung masa depan masyarakat. Keluarga merupakan sel dasar masyarakat di mana kita belajar hidup bersama orang lain dan menjadi milik satu sama lain; keluarga juga merupakan tempat di mana orang tua mewariskan iman kepada anak-anak mereka (Evangelii Gaudium 66). Pada intinya, kualitas keluarga menentukan kualitas masyarakat.

  1. Peranan Keluarga

Keluarga merupakan persekutuan pendidikan yang paling fundamental dan esensial, dalam arti: tempat pendidikan pertama dan memberikan didikan tentang nilai-nilai hidup yang terpenting bagi anak. Selain itu juga, keluarga berperan mewariskan nilai-nilai agama dan budaya yang bermanfaat bagi anak untuk memahami dirinya dalam hubungan dengan Allah, sesama dan lingkungan hidup (alam ciptaan).

 

  1. Sasaran Tema APP 2017

Sasaran tema APP 2017 ialah membangun dan mewujudkan perubahan dan pembaharuan iman umat yang meliputi: (a) menghormati dan menghargai alam semesta sebagai sumber dan penyangga keberlangsungan hidup seluruh ciptaan, (2) menyadari fungsi dan peran manusia sebagai bagian dari keutuhan ciptaan yang bertanggung jawab dalam menjaga dan memelihara, mengolah alam semesta sebagai rumah bersama.

  1. Wawasan Ekologis

Keluarga “berwawasan ekologis” berarti keluarga terbuka, sadar, dan yakin dengan imannya bahwa “ciptaan merupakan anugerah Allah yang harus dijaga dan dipelihara”. Allah menciptakan segala sesuatu baik dan mempercayakannya kepada manusia sebagai penjaga, pemelihara, dan pengguna. Kehidupan dan kesejahteraan hidup manusia sangat tergantung pada keutuhan ciptaan. Tapi realitas yang terjadi adalah sebaliknya; manusia merusak dan mencemarkan alam!

  1. Visi Ekologis dalam Keluarga

Tema APP 2017 mengundang setiap keluarga Katolik untuk memiliki visi ekologis, yaitu mengerti dan meyakini bahwa segala sesuatu dalam jagat raya saling terkait dan terhubung sebagai kesatuan ciptaan. Visi ini bersifat trinitarian: Allah, manusia dan ciptaan disatukan oleh kekuatan dan Roh Allah sendiri sebagai Pencipta. Relasi manusia dengan Allah menentukan relasinya dengan sesama dan lingkungan.Pengelolaan lingkungan hidup secara benar membutuhkan iman atau dimensi ilahi. Akar krisis ekologis terletak pada rusaknya relasi dgn Allah dan alam.

  1. Pertobatan Ekologis

Umumnya pertobatan berarti memulihkan relasi dengan Tuhan dan sesama. Pertobatan dalam arti ini sungguh mendasar dan selalu diperlukan. Namun karena martabat manusia yang utuh dan kesejahteraan hidup terkait dgn lingkungan hidup, maka kita juga dipanggil untuk memiliki pertobatan ekologis, yaitu memulihkan relasi dengan ciptaan yang dianugerahkan Allah kepada kita manusia. Gerak tobat ekologis itu dimulai dari perjumpaan dengan Kristus dan Sabda-Nya, dan menjadi konkret pemulihan relasi dengan sesama dan lingkungan hidup.

  1. Tindakan Tobat Ekologis

Kita bertobat secara ekologis ketika dengan sadar kita mengubah dan membaharui cara bersikap dan bertindak terhadap alam atau lingkungan hidup. Sikap serakah & cara hidup boros (konsumerisme) merupakan satu praktik meng-gunakan sumber daya secara tidak adil dan merusak lingkungan. Kita perlu hidup sederhana, disiplin, rela berkorban. Pola hidup hemat dalam keluarga merupakan cara menjaga dan merawat kelestarian lingkungan hidup. Dibutuhkan aksi nyata untuk mendukung keutuhan ciptaan

III. ENSIKLIK “LAUDATO SI”

  1. Ensiklik Paus Fransiskus

Nama “Laudato Si’” diambil dari nyanyian indah St. Fransiskus dari Asisi berjudul “Laudato Si’, mi’ Signore”, berarti “Terpujilah Engkau, Tuhanku”. Ensiklik ini diumumkan oleh Paus Fransiskus kepada Gereja dan dunia pada tanggal 24 Mei 2015 di Roma. Isinya tentang Perawatan RUMAH KITA BERSAMA, yaitu bumi, alam semesta sebagai ciptaan Tuhan. Matahari, bulan, bintang, angin, udara, kabut, langit, air, api, tumbuhan… semuanya merupakan saudara/i dari manusia di satu rumah bersama, yaitu BUMI.

  1. Saudari Kita Sedang Menjerit….

Bumi, saudari kita, rumah kita bersama, sedang menjerit karena berbagai kerusakan yg ditimpahkan padanya tanpa rasa tanggung jawab. Baik itu polusi (pencemaran udara) dan perubahan iklim, masalah air: kualitas air menurun, air bersih kurang, hilangnya keanekagaman hayati, penurunan kualitas hidup manusia akibat alam rusak, ketimpangan sosial-ekonomi secara global, serta tanggapan yang lemah dan keragaman pendapat.

  1. Pendasaran Biblis

Mengapa bumi itu saudari dan rumah kita bersama saudara-sudari matahari, bulan, hewan dan tumbuhan? Jawabannya, karena bumi dan segala isinya dijadikan Allah sungguh amat baik (Kej. 1:31), dan manusia mempunyai sebagai citra Allah (Kej. 1:26) sebagai penjaga dan perawat ciptaan Tuhan (Kej.1:28-29). Manusia punya relasi berdimensi 3, yaitu: Allah, sesama dan alam. Rusaknya relasi dengan Allah mengakibatkan hancurnya relasi dengan sesama dan alam.

  1. 4. Manusia Sebagai Penguasa dan Pemelihara

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15). Paus Fransiskus: Marilah kita pahami dengan tepat. “Mengusahakan” berarti menggarap, membajak dan mengerjakan. Sedangkan kata “memelihara” berarti melindungi, menjaga, melestarikan, merawat dan mengawasi. Manusia bukan pemilik alam, melainkan pendatang yang diberi tugas untuk mengusahakan dan memelihara! Pemahaman keliru membawa kepada eksploitasi atau penyalah-gunaan alam tanpa tanggung jawab.

  1. 5. Segala Ciptaan Punya Nilai

Allah menciptakan setiap makhluk dengan nilainya sendiri, keberadaannya juga memuji dan memuliakan Allah (Mzm.104:31). Katekismus Gereja Katolik (2416) menegaskan, “Setiap makhluk memiliki kebaikan dan kesempurnaanya sendiri… yang memancarkan kebijaksanaan dan kebaikan Allah yang tak terbatas”. Manusia dapat mengalami ketidakadilan, begitu juga dengan alam. Ketidakadilan berarti tidak menghargai nilai ciptaan, merusak tanpa rasa tanggung jawab. Seperti manusia, alam juga perlu istirahat: untuk bisa bertumbuh, mekar dan memuliakan Allah.

  1. Sikap dan Ajaran Yesus

Yesus menegaskan iman kita kepada Bapa, Allah Sang Pencipta (Mat.11:25). Ia mengajarkan bahwa seluruh alam ciptaan adalah penting bagi Allah: burung pipit yang tak pernah dilupakan Allah (Luk.12:6); burung di udara yang selalu dipelihara (Mat.6:26). Yesus mengajak para murid untuk memiliki kesadaran akan alam ciptaan lain (Yoh.4:35) dan menggunakan alam sebagai bahan pengajaran iman (Mat. 13:31-32). Manusia dipanggil untuk mengantar semua makhluk kepada kepenuhan Pencipta mereka. Kita semua adalah  milik Allah (Keb.11:26) dan kembali kepada Allah.

  1. Akar Krisis Ekologis

Ilmu pengetahuan dan teknologi sungguh bermanfaat, tapi telah berdampak sangat buruk, karena teknologi dipakai tanpa iman dan tanpa perasaan moral; akibatnya, relasi dengan sesama dan alam dirusak! Paham keliru tentang manusia sebagai pusat alam semesta mengantar kita kepada keserakahan dalam menggunakan dan mengolah alam: merusak bumi. Gaya hidup manusia individualis yang memberikan prioritas tertinggi pada kepentingannya yang sesaat: pakai dan buang (sampah!) merupakan gaya hidup konsumtif dengan banyak sampah; manusia juga dijadikan sampah melalui praktek aborsi, prostitusi, penindasan, ketidakadilan, dan sebagainya.

  1. Visi Baru: Pendekatan Integral

Paus Fransiskus: Kita mesti menganut ekologi integral, yakni gerakan ekologis yang menekankan ekosistem sebagai rumah bersama dari segenap makhluk yang ada dan hidup di dalam bumi. Ekologi integral memberi perhatian serius pada tema kemiskinan, sebagai salah satu krisis ekologis global, sekaligus sebagai salah satu pintu masuk untuk memulihkan krisis ekologis global dewasa ini.

  1. Satu Krisis Berdimensi Jamak

Menurut Paus Fransiskus,“Tidak ada dua krisis terpisah, yang satu menyangkut lingkungan dan yang lain sosial. Hanya ada satu krisis sosial-lingkungan yang kompleks. Solusi hanya mungkin melalui pendekatan komprehensif untuk memerangi kemiskinan, memulihkan martabat orang yang dikucilkan, dan pada saat yang sama melestarikan alam” (LS 139). Dibutuhkan suatu ekologi lingkungan, ekonomi, sosial, budaya, dan kebiasaan  hidup sehari-hari untuk memulihkan kemiskinan dan krisis ekologis global dewasa ini.

  1. Mulai dari Keluarga

Ekologi sosial mesti pertama-tama dimulai dari dalam keluarga, kemudian melalui komunitas lokal, bangsa, hingga ke masyarakat internasional. Dari keluarga pula dikembangkan kesadaran untuk membaharui ekologi sehari-hari (gaya hidup masing-masing individu), bahwa hidup lebih bermakna bila kita berbagi dengan orang lain dan dengan alam semesta demi kesejahteraan generasi masa depan. Kita diundang untuk melakukan tindakan nyata melalui dialog, pendidikan, spiritualitas, serta sikap dan aksi sehari-hari.

  1. REKOMENDASI
  1. 1. Moral Ekologis

Pesan moral tema APP 2017 dan Laudato Si’ kiranya cukup jelas: “menjadi orang beriman dan orang baik berarti memiliki relasi yang mendalam dengan Tuhan, peduli pada sesama manusia, dan bertanggung jawab sebagai pelindung serta perawat keutuhan ciptaan. Orang beriman yang sejati TIDAK: merusak alam, men-cemarkan lingkungan, mengekspoiasi sumber daya alam secara serakah, mengotori lingkungan, mematikan keanekaragaman hayati.

  1. 2. Paroki-Paroki: Go Green

Langkah-langkah yang boleh diambil untuk mewujudkan Paroki-paroki yang Go Green adalah (1) memasukkan kebijakan dan kegiatan cinta lingkungan dalam program kerja Dewan Pastoral Paroki (DPP). Misalnya, kebijakan tentang pengurangan peng-gunaan plastik. (2) menciptakan lingkungan gereja dan pastoran yang bersih dan hijau, baik di dalam gereja, pastoran, maupun di halaman sekitar gereja dan pastoran. (3) mengurangi penggunaan energi yang berlebihan dlm gereja dan pastoran, antara lain dengan meminima-lisasi penggunaan AC dan listrik.

  1. 3. LEMBAGA PENDIDIKAN

Perwujudan gerakan APP 2017 dalam dunia pendidikan bisa meliputi hal-hal seperti berikut: (1) memasukkan materi pendidikan ekologis dalam kurikulum dan kegiatan rutin sekolah, (2) menciptakan lingkungan dan suasana sekolah yang bersih, hijau dan lestari, serta (3) menyediakan hari khusus untuk kegiatan cinta lingkungan, antara lain dengan menanam pohon bersama, menanam tanaman dalam kebun sekolah, mengadakan live in, rekoleksi, dan retret dengan tema cinta lingkungan hidup.

  1. 4. Petugas Pastoral: Pastor, Katekis, Pemimpin Ibadat, Biarawan-Biarawati.

Rekomendasi yang boleh diusulkan bagi para petugas pastoral adalah: (1) menjadi teladan dalam bersikap dan bertindak dengan kepedulian ekologis. (2) memasukkan pesan-pesan ekologis dalam pewartaan firman setiap kali memberi renungan atau berkhotbah di hadapan umat beriman. (3) memfasilitasi kegiatan-kegiatan rekoleksi dan retret yang memuat materi dan praktek pendidikan ekologis.

  1. Para Pengusaha

Perwujudan nilai-nilai dan penghayatan ekologis yang harus dipraktekkan oleh para pengusaha adalah: (1) memegang teguh prinsip “triple P” (Profit, Planet, People) dalam membangun usaha; konsekuensinya: memperhatikan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), penyejahteraan karyawan, dan penghargaan nilai-nilai kehidupan masyarakat lokal, (2) memberi perhatian serius bagi penanganan limbah, antara lain dengan mendaur ulang sampah dan limbah. (3) menggunakan teknologi-teknologi terbaru yang ramah lingkungan, sekalipun harus diproduksi/dibeli dengan harga yang mahal.

  1. Bagi Pemerintah

Pemerintah juga sangat beperan penting dalam hal perwujudan masyarakat ekologis. Hal tersebut tentunya bisa ditempuh dengan: (1) menganut prinsip bahwa pusat pembangunan adalah manusia, dan bahwa kesejahteraan manusia tidak mungkin terwujud secara penuh tanpa keutuhan ciptaan.(2) kebijakan tentang penggunaan sumber daya alam semestinya memastikan keadilan bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang, dan menunjang kelestarian lingkungan hidup. (3) menyediakan kawasan publik yang hijau dan ramah lingkungan, seperti menyediakan taman kota yang luas dan hijau.

  1. Keluarga

Dalam keluarga sendiri, perwujudan keluarga yang “berwawasan ekologis” dapat dimulai dengan (1) menghayati gaya hidup sederhana, antara lain: dengan cara mengurangi kegiatan belanja barang yang tidak perlu, mengurangi barang yang dijadikan sampah, membuang sampah pada tempatnya, dan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dalam jarak perjalanan yang dekat (2) Mendidik dan membiasakan anak-anak untuk peduli pada sesama dan pada lingkungan hidup melalui praktik yang sederhana, seperti hidup sederhana, rela berbagi, menjagakebersihan rumah dan kelestarian halaman, dan sebagainya.

P. Johanis Ohoitimur, MSC

(Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *